“… Sebagai insan yang beriman kita meyakini bahwa segala peristiwa atau takdir semuanya atas izin Allah SWT,  tugas kita berusaha dan berdo’a. Meskipun kita tidak pernah berharap bencana datang namun alangkah baiknya jika bencana terjadi kita dalam kondisi siap sehingga kita mampu meminimalisis kerugian baik harta, benda bahkan jiwa …”. Demikian petikan sambutan yang disampaikan kepala  kepala SDIT Al Huda Wonogiri, Rabu (18/1) di depan seluruh peserta didik sebelum kegiatan simulasi tanggap bencana gempa bumi dilaksanakan.

   

Di tempat terpisah dengan dihadiri seluruh pendidik dan tenaga kependidikan ibu Sri Maryati, S.Sos, MAP. selaku Kasie Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Wonogiri memberikan sambutan dan arahan tentang pentingnya mitigasi bencana sebagai upaya bersama untuk meminimalisis dampak dari bencana atau musibah. Selain itu beliau juga menyampaikan sekilas program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan ucapan terimakasih kepada pihak sekolah yang mulai melaksakan program tersebut dengan salah satunya melaksanakan kegiatan simulasi pada pagi hari ini.

Setelah Tim BPBD selesai melakukan koordinasi dengan guru dan karyawan, akhirnya seluruh peserta didik dikumpulkan di halaman utama sekolah untuk melihat dan mendengarkan materi dari kak Heri tentang kesiapsiagaan saat terjadi gempa bumi.

 

Seluruh peserta tampak antusias dan bersemangat, karena peserta tidak hanya mendengarkan tapi juga diminta ikut mempraktikan cara atau teknik berlindung saat terjadi gempa, pesertapun diajak bernyanyi bersama lagu jika ada gempa.

Usai mengikuti pengarahan dari Tim BPBD seluruh siswa dan guru diminta untuk kembali ke ruang dan kelas masing-masing untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) seperti biasa, selanjutnya apabila nanti terdengar bunyi sirine maka diibaratkan telah terjadi gempa bumi, lalu mempraktikan semua Teknik, tahapan dan prosedur yang telah diajarkan tadi.

Tepat pukul 10.00 WIB. sirene berbunyi, seluruh warga sekolah bergegas mencari alat untuk berlindung, ada yang di bawah meja, di bawah kursi, menggunakan tas atau jika tidak menemukan maka menggunakan kedua tangan, utamanya untuk melindungi kepala dari tertimpa benda keras.

Beberapa saat kemudian setelah gempa berhenti petugas koordinator keamanan memeriksa jalur evakuasi lalu membunyikan tanda (suara kentongan) dimulainya evakuasi semua warga sekolah menuju titik kumpul sesuai letak Gedung dan kelas, sambil membawa tas untuk melindungi kepala.

   

 

Setelah semua warga sekolah selamat dievakuaisi ke titik kumpul, lalu petugas keamanan kembali mengecek kondisi dan kelayakan bangunan lalu melaporkannya kepada pimpinan sekolah, untuk memutuskan Langkah selanjutnya. Dalam simulasi ini diskenariokan semua warga sekolah selamat dan gedung serta fasilitas pendukung lainnya masih dalam kondisi baik sehingga KBM bisa dilanjutkan kembali, simulasipun berakhir.

Dari hasil evaluasi bersama usai kegiatan simulasi, Alhamdulillah simulasi sukses berjalan lancar, kemudian tanda atau rambu keselamatan agar dilengkapi dan dari Tim BPBD mengharapkan kegiatan ini bisa rutin diselenggarakan secara berkala agar menjadi kebiasaan atau reflek saat terjadi musibah khususnya gempa bumi bagi seluruh warga sekolah.

Dikutip dari laman BNPB sebagi bahan kesiapsiagaan kita menyatakan, secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera ? Jawa – Nusa Tenggara ? Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986).

Gempa bumi yang disebabkan karena interaksi lempeng tektonik dapat menimbulkan gelombang pasang apabila terjadi di samudera. Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini, Indonesia sering mengalami tsunami. Tsunami yang terjadi di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh gempa-gempa tektonik di sepanjang daerah subduksi dan daerah seismik aktif lainnya (Puspito, 1994). Selama kurun waktu 1600-2000 terdapat 105 kejadian tsunami yang 90 persen di antaranya disebabkan oleh gempa tektonik, 9 persen oleh letusan gunung berapi dan 1 persen oleh tanah longsor (Latief dkk, 2000). Wilayah pantai di Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana tsunami terutama pantai barat Sumatera, pantai selatan Pulau Jawa, pantai utara dan selatan pulau-pulau Nusa Tenggara, pulau-pulau di Maluku, pantai utara Irian Jaya dan hampir seluruh pantai di Sulawesi. Laut Maluku adalah daerah yang paling rawan tsunami. Dalam kurun waktu tahun 1600-2000, di daerah ini telah terjadi 32 tsunami yang 28 di antaranya diakibatkan oleh gempa bumi dan 4 oleh meletusnya gunung berapi di bawah laut.

Wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti ini digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang relatif beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi tanah yang subur. Sebaliknya, kondisi itu dapat menimbulkan beberapa akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan. Seiring dengan berkembangnya waktu dan meningkatnya aktivitas manusia, kerusakan lingkungan hidup cenderung semakin parah dan memicu meningkatnya jumlah kejadian dan intensitas bencana hidrometeorologi (banjir, tanah longsor dan kekeringan) yang terjadi secara silih berganti di banyak daerah di Indonesia. Pada tahun 2006 saja terjadi bencana tanah longsor dan banjir bandang di Jember, Banjarnegara, Manado, Trenggalek dan beberapa daerah lainnya. Meskipun pembangunan di Indonesia telah dirancang dan didesain sedemikian rupa dengan dampak lingkungan yang minimal, proses pembangunan tetap menimbulkan dampak kerusakan lingkungan dan ekosistem. Pembangunan yang selama ini bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam (terutama dalam skala besar) menyebabkan hilangnya daya dukung sumber daya ini terhadap kehidupan mayarakat. Dari tahun ke tahun sumber daya hutan di Indonesia semakin berkurang, sementara itu pengusahaan sumber daya mineral juga mengakibatkan kerusakan ekosistem yang secara fisik sering menyebabkan peningkatan risiko bencana.

By risha

One thought on “Lakukan Simulasi Gempa SDIT Al Huda Wonogiri Gandeng BPBD”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *